Senin, 28 Juni 2021
PENULISAN 7 - ETIKA BISNIS
Jual Mahal
“Repan, tadi ada Anisa nanyain kamu, si Anisa anaknya bos kayu itu.” Sambung Dodi pada Repan agak ngejek. Repan hanya diam enggan menanggapi celotelahan Dodi yang menurutnya tidak penting.
“Ada apa denganmu Repan? Kamu terlihat seperti orang sedang gudah gulana.”
“Coba kamu baca, kamu paham puisi ini?” Sambil menyodorkan naskah puisi yang akan dimusikalisasi minggu depan.
“Ini karya Anisa ya? Jutek jutek boleh juga, Kamu masih memikirkannya?”
Repan hanya mengangguk.
Tanpa di kata kasih tetaplah kasih, Irismu indah, aku pengagumnya
Aku selalu takjub dengan pandangmu Namun pandangmu malam tadi membuatku pilu. Pandang mu tak lagi indah, apa ini pertanda? Kasihmu untukku telah kau hilangkan? Aku enggan kamu pergi. Aku sering ingin menyerah, namun irismu mengatakan jangan, Namun dengan irismu semalam aku tahu akau menyimpulkan irismu tak lagi untuk ku. Akan sulit tapi aku ikhlas, Berbahagialah sayangku.
“Aku yakin ini adalah pesan darI Anisa untukku. Aku yakin dia tahu, dengan lirik ini dia memintaku mundur?” tanya Repan pada Dodi yang membaca naskah itu. “Entahlah, aku bingung kenapa kamu jatuh kepada si jutek itu.” “Dia itu berbeda. Dia itu unik, dia tidak suka mengumbar rasa. Aku heran aku pernah dikecewakannya kenapa aku masih bertahan?” Jelas Repan. “Kalian hanya butuh hilangkan egois.” Sahut Dodi. Setelah beberapa hari terlewati Repan tak tahan ia ingin berbicara dengan Anisa. “Ada apa Repan?” Tanya Anisa singkat. “Em, em, aku ingin berbicara dengan kamu” Sambung Repan grogi .“Maaf, Pan, aku ada ujian 5 menit lagi. Besok saja ya?” Sambung Anisa meninggalkan Repan sendiri. “Aku sangat mencintaimu Anisa.” Teriak Repan. Anisa hanya memberhentikan langkahnya tidak menoleh, dan tidak menjawab selanjutnya ia kembali melangkah. Menurut Repan itu jawaban Anisa tidak lagi memiliki rasa yang sama. Orang tua Repan ada di kost “Tadi ada seorang perempuan yang menitipkan surat nak, dia terlihat anak baik, sepertinya penting.” Kata ayahnya. Repan mendengarkan kata-kata dari ayahnya dengan pilu tak ada semangat. “Ya sudah nanti Repan baca.” jelas Repan kemudian meninggalkan ruangan keluarga mini itu. “Namanya Anisa.” Sahut ibunya. Mendengar nama itu hatinnya langsung bergejolak, senang sekali rasanya, Cepat Repan ingin membaca suratnya.“Benar itu, Bu?”. “Iya benar Repan.”Dibaca surat itu ternyata Anisa memintanya menemui kedua orang tuanya jika Repan serius, Repan tersenyum bahagia.
PENULISAN 5 - ETIKA BISNIS
Akibat Tidak Disiplin
Roni seorang karyawan di salah satu PT swasta, ia termasuk karyawan yang pintar namun ia kurang disiplin sering terlambat dan menyepelekan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Suatu hari Roni ditugaskan mengerjakan proyek diluar kota, karena dirumah ia tidak pernah bisa bangun jika tidak dibangun oleh ibunya, diluar kota ia tidak bisa bangun sendiri, hal ini bukan hanya menyebabkan ia telat bekerja namun juga kehilangan proyek berharga perusahaan tempat ia bekerja.
Keesokan harinya setelah ia kembali ke ibu kota dan masuk kantor, ia dipanggil atasannya.
“Apa yang kamu lakukan Roni kenapa kamu tidak menghadiri pertemuan itu” tanya atasan Roni.
“Saya tidak bisa bangun pagi jika tidak dibangunkan ibu saya pak” jujur Roni.
“Saya kecewa kamu menyepelkan tugas dari saya dan merusak kepercayaan saya, kesalahanmu fatal namun karena kamu telah banyak membantu perusahaan saya, saya tidak akan memecat kamu namun maaf kamu harus turun jabatan” tegas atasan Roni
PENULISAN 4 - ETIKA BISNIS
Tak Konsisten
Suara alarm berdering begitu nyaring mengusik tidur nyenyak seorang Nathan. Dia enggan membuka mata namun akhirnya terpaksa ia buka.
“Oh Tuhan!” Nathan kaget melihat jam ternyata sekarang sudah pukul 7 pagi. Nathan langsung bergegas mandi dan tanpa sarapan ia berangkat kekantor. Sesampainya Nathan di kantor, Nathan telat mengikuti pertemuan pagi ini karena telah dimajukan lebih awal dari biasanya dengan alasan Bapak Direktur ada keperluan diluar kota.
“Permisi, Pak. Saya Boleh masuk?” Tanya Nathan izin kepada bapak direktur yang memimpin pertemuan.
”Silakan masuk, tapi maaf proyekmu digantikan oleh saudara Arkan.”
“Kenapa pak? Saya hanya telat 15 menit.”
“Maaf saudara Nathan ini bukan masalah lama atau tidaknya anda terlambat, namun ini tentang ke konsistenan anda dalam bekerja.” Jelas Bapak direktur dengan tegas.
Langsung seketika Nathan hanya bisa terdiam dengan wajah pucatnya. Setelah pertemuan ini selesai Nathan berjalan gontai pergi menuju meja kerja miliknya.
“Ada apa Nath? Kok telat.”
“Memang salah saya, saya semalam bergadang nonton bola, sampai melupakan project penting yang sangat menguntungkan bagi saya.”
“Oalah harusnya kamu harus lebih mengurangi hobimu.” Sambung Meri sedikit memberi nasihat.